Senin, 08 November 2010

Penderitaan dan kegelisahan

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Manusia adalah makhluk sosial yang mengalami bermacam-macam liku kehidupan. Dimana didalam pemenuhan kebutuhan hidupnya akan selalu tergantung dengan manusia(membutuhkan orang lain).
Dalam usahanya untuk hidup, manusia sering mengalami kegagalan. Seperti kegagalan dalam belajar, berkarya, bergaul ataupun kegagalan dalam bercinta. Dalam menghadapi kegagalan tersebut, tergantung pada manusia itu sendiri. Ada yang telah mempersiapkan segala sesuatunya termasuk kegagalan tersebut, sehingga orang tersebut tidak terlalu kecewa dengan hasil perbuatannya itu, ada yang mengganggap bahwa kegagalan adalah hal yang wajar dan suatu pengalaman, ada juga yang mengganggap bahwa kegagalan itu merupakan pengalaman paling pahit dalam hidupnya, ia selalu memikirkan kegagalan tersebut dan kecewa, menderita, dan tidak puas dengan hasil yang telah ia perbuat.
Dalam kehidupan ini manusia juga mempunyai harapan-harapan dan tidak ada seorangpun yang dapat menghalanginya.Untuk mencapai harapan-harapan itu manusia berusaha dengan sekuat tenaga, setelah berusaha maka orang-orang itu dengan gelisah menunggu dan menanti bagaimana hasil usaha mereka, sesuaikah dengan apa yang mereka korbankan, berhasilkah atau mereka harus kecewa karena gagal. Jadi manusia sering mengalami penderitaan dan kegelisahan di dalam kehidupannya.
Penderitaan, rasa sakit, dan tersiksa adalah bagian hidup manusia. Tiap manusia akan pernah dan akan mengalaminya, meskipun kadar penderitaannya, rasa sakit dan rasa tersiksa itu tidak sama.
Dalam ajaran syariat agama, kita mengenal surga dan neraka. Neraka adalah identik dengan dosa. Dosa adalah perbuatan yang tidak dikehendaki atau dilarang Tuhan. Mereka yang berbuat dosa akan mendapatkan siksaan Tuhan. Misalnya firman Allah SWT:
Tidakkah Nabi dan orang mu’min memintakan ampun bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang musyrik ini termasuk famili kerabat yang dekat, setelah nyata bahwa merekan ahli neraka
(QS At Taubah:113)
I.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, maka pembahasan makalah di fokuskan pada masalah-masalah berikut:
1. apa maksud dari penderitaan dan kegelisahan?
2. mengapa manusia mengalami penderitaan dan kegelisahan?
3. bagaimana cara mengatasi penderitaan dan kegelisahan?

I.3 TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan disusunnya makalah ini adalah:
1. memehami makna penderitaan dan kegelisahan.
2. mengetahui sebab-sebab penderitaan dan kegelisahan.
3. mengetahui cara-cara mengatasi penderitaan dan kegelisahan.








BAB II
PEMBAHASAN

2.1 MANUSIA DAN PENDERITAAN
A. Pengertian Penderitaan
Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sangsekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat berbentuk lahir atau batin, keduanya. Termasuk penderitaan ialah keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan, kekenyangan, kepanasan dan lain-lain.(Hidayati.2007)
Al-quran maupun kitab suci agama lain banyak menguraikan penderitaan manusia sebagai peringatan bagi manusia. Dalam riwayat Nabi Muhammad SAW pun, diceritakan bahwa beliau dilahirkan sebagai anak yatim dan kemudian yatim piatu, yang dibesarkan kakeknya kemudian pamannya. Beliau menggembala kambing, bekerja pada orang dan sebagainya. Bahkan sebagian besar hidupnya mengalami penderitan yang luar biasa.
Dalam riwayat hidup Budha Gautama, yang dipahatkan dalam bentuk relief pada dinding candi Borobudur kita juga melihat adanya penderitaan. Meskipun berupa relief, hati kita pilu dan haru pada saat melihatnya. Seorang pangeran (sidharta) yang meniggalkan istana yang bergemelapan, masuk hutan menjadi bhiksu dan makan dengan cara mengemis. Menggembara di hutan dengan penuh penderitan dan tantangan.
Kalau kita baca buku riwayat hidup orang-orang besar, semua dimulai dengan penderitan. Hamka, mengalami penderitaan yang hebat pada masa kecilnya, hingga ia hanya mengecap sekolah kelas 2 saja. Namun ia mampu menjadi orang terkenal, orang besar pada zamannya, berkat perjuangan melawan penderitaan.
Pada waktu kita membaca riwayat hidup para tokoh itu, kita dihadapkan pada jiwa besar harga diri, berani karena benar, rasa tanggung jawab, semangat membaca dan sebagainya. Semua itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Di sana kita tidak temui jiwa muafik, plin plan, cengeng, dengki iri dan sebagainnya.

B. Sumber Penderitaan
1. Hakikat manusia
manusia pada hakikatnya adalah mahluk hidup yang memiliki kepribadian yang tersusun dari perpaduan dan saling hubungan dan pengaruh-mempengaruhi antara unsur-unsur jasmani dan rohani, dan karena itu pendritaan dapat pula terjadi pada tingkat jasmani maupun rohani.
Di dalam jasmani manusia terdapat 2 unsur yang selalu berhubungan, yaitu otak dan panca indra. Di dalam otak dan berbagai pusat kemampuan manusia. Pancaindra merupakan alat jedala atau pintu tubuh manusia sehingga manusia mampu menerima atau menangkap segala sesuatu yang berada dilingkunganya.
Rohani yang sering disebut dengan istialah lain seperti jiwa , badan halus, dan mind, merupakan unsur yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindra manusia. Dalam kehidupan sehari-hari rohani menjiwai, mendasari dan memimpin unsur-unsur pribadi manusia. Rohani memiliki alat dan kemampuan yaitu: nafsu , perasaan, pikiran, kemauan
Dalam hubungannya dengan penderitaan ini akan dibahas sedikit mendasar tentang nafsu
a. Nafsu.
Nafsu adalah suatu dorongan yang ditimbulkan oleh segala macam kebutuhan, termasuk pula instink, sehingga menimbulkan keinginan. Batas antara nafsu dan keinginan tidak terlalu jelas. Kasmiran (1985), menjelaskan bahwa nafsu menurut kerohanian indonesia mencakup lima macam, ialah empat macam seperti yang ada dalam tasawuf islam dan yang satu lagi yang merupakan paduan dari keempat macam yang lebih dahulu, yang secara keseluruhan disebut “sedulur papat limapencar” . lima macam nafsu itu adalah : (1) mutmainnah (2) amarah (3) supiah (4) lawwamah dan (5) kombinasi keempat nafsu.
b. Perasaan
perasaan merupakan gejala psikis. Perasaan menyangkut susunan batiniah manusia. Kalau merasa cinta dan benci ini tinggal di dalam batin manusia. Perasaan timbul dalam batin akibat kontak manusia dengan lingkungannya. Adanya rangsangan dari luar menimbulkan reaksi, dari kaitan ini adalah reaksi emosional ini dapat sesuai dengan kehendak pribadi dan akan menimbulkan rasa puas, senang dan sikap positif, tetapi dapat pula terjadi reaksi emosional yamg tidak sesuai dengan kehendak pribadi manusia, sehingga menimbulakan aibat rasa tidak senang, marah, dan sikap negatif.
c. Pikiran
Pikiran disebut juga akal, budi. Dimilikinya pikiran ini memungkinkan manusia mempertimbangkan, membedakan, dan mengambil keputusan berdasarkan alasan-alasan sendiri. Dimilikinya budi atau akal ini pula yang memungkinkan manusia tahu atau mempunyai pengetahuan tentang sesuatu. Tahu dalam hal ini berarti menghubungkan secara mental sesuatu dengan sesuatu. Jika hubungan ini sesuai maka pengetahuan itu benar, jika tidak sesuai maka pengetahuan itu salah dan orang yang berbuat dikatakan telah berbuat sesuatu yang keliru.
d. Kemauan
Kemauan disebut juga kehendak. Dimilikinnya kemauan atau kehendak dalam diri manusia memungkinkan manusia memilih. Untuk memilih manusia harus apa yang dipilih. Oleh karena itum kemauan atau kehendak ini dapat dikatakan sebagai pelaksana mengenai apa-apa yang telah dipertimbangkan oleh akal budi dan perasaan.
2. Dorongan memenuhi kebutuhan sebagai sumber penderitaan
untuk mempertahankan keberadaan serta kehidupannya, manusia di tuntut untuk memenuhi kebutuhannya baik kebutuhan jasmani, rohani dan sosialnya. Di dalam memenuhi kebutuhan ini nafsu memegang peranan yang penting. Nafsu atau dorongan ini cendrung menuntut dipenuhinya kepuasan akan keinginan. Dalam usaha memenuhi nafsu ini mengunakan daya kehendak, dan akal budi mempertimbangkan jalan dan materi yang merangsang manusia untuk dapat direalisasikan dalam bentuk perbuatan.
Dalam memenuhi kebutuhan ini, mungkin saja apa yang menjadi tujuan bisa terpenuhi, tetapi juga mungkin tujuan tidak dapat dipenuhinya. Bila tujuan bisa dipenuhi, maka rasa kepuasan, kegembiraan dan kesenangan dapat doperoleh. Tetapi bila tujuan tidak dapat dipenuhi, maka akan terjadi penyesalan, kesedihan dan penderitaan.

C. Penderitaan Sebuah Fenomena Universal
Penderitaan, memang tidak hanya terjadi lantaran perang ataupun tingkah manusia agresif lainnya. Sebenarnya banyak hal yang bisa menjadi penyebab penderitaan manusia, seperti: bencana alam, musibah atau kecelakaan, kemiskinan dan lain sebagainya. Selain itu, penderitaan boleh juga dibilang sebagai fenomen yang universal. Penderitaan tidak mengenal ruang dan waktu. Ini berarti, bahwa penderitaan tidak hanya dialami oleh manusia di zaman ini, dimana kebutuhan dan tuntutan hidup semakin meningkat yang pada instansi berikut bisa menimbulkan penderitaan bagi yang tidak mampu memenuhinya. Akan tetapi penderitaan telah dikenal sejak kelahiran manusia pertama.
Sebagai fenomen universal, penderitaan tidak mengenal perbedaan manusia. Artinya, penderitaan bisa pula dialami oleh manusia-manusia yang dianggap suci, bahkan rasul atau nabi.
D. Manusia dan Penderitaan
Penderitaan adalah sebuah kata yang sangat dijauhi dan paling tidak disenangi oleh siapapun. Berbicara tentang penderitaan ternyata penderitaan tersebut berasal dari dalam dan dari luar diri manusia. Biasanya orang menyebut dengan faktor internal dan faktor eksternal.
Dalam diri manusia itu ada cipta, rasa, dan karsa. Karsa adalah sumber yang menjadi penggerak segala aktifitas manusia. Cipta adalah realisasi dari adanya rasa dan karsa. Baik rasa maupun karsa selalu ingin dipuaskan. Karena selalu ingin dilayani. Sedangkan rasa adalah selalu ingin dipenuhi tuntutannya. Baru dalam kedaunya menemukan yang dicarinya atau diharapkan manusia akan merasa senang, merasa bahagia. Dan apabila karsa dan rasa tidak terpenuhi manusia akan merasa menderita. Jelaslah bahwa karsa da rasa merupakan sumber penderitaan manusia
Sebab-sebab yang menjadikan manusia itu menderita, antara lain: rasa kurang pandai, kurang kaya, kurang beruntung, kurang tinggi pangkatnya, dan lain sebagainya. Apabila didalam hatinya masih ada rasa kurang, niscaya orang tersebut tidak pernah merasa bahagia. Jadi orang itu masih merasa menderita. Penyakit ini dapat diobati dengan cara menumbuhkan kesadaran terhadap adanya keadaan yang berlawanan dengan yang dijadikan perbandingan. Jadi bila orang itu merasa bahwa ada orang yang lebih kaya, maka orang itu harus yakin bahwa pasti ada orang yang lebih miskin daripada dirinya.
Penderitaan seseorang menurut pandangan agama islam disebabkan oleh dua kenungan. Pertaam, karena ujian Allah, kedua, karena bala’ atau siksa Allah. Bila kita mengalami suatu penderitaan maka sikap kita yang paling jitu adalah “mawas diri”. Dengan jalan itu dapat memperoleh.

2.2 MANUSIA DAN KEGELISAHAN
Kegelisahan berasal dari kata gelisah. Gelisah artinya rasa yang tidak tenteram di hati atau merasa selalu khawatir, tidak dapat tenang, cemas dan sebagainya. Kegelisahan artinya perasaan gelisah, khawatir, cemas atau takut. Manusia yang gelisah selalu dihantui rasa khawatir dan takut.
Manusia suatu saat dalam hidupnya akan mengalami kegelisahan. Kegelisahan ini, apabila cukup lama hinggap pada manusia, akan menyebabkan suatu gangguan penyakit. Kegelisahan (anxiety) yang cukup lama akan menghilangkan kemampuan untuk merasa bahagia.
Tragedi dunia modern tidak sedikit dapat menyebabkan kegelisahan. Hal ini mungkin akibat kebutuhan hidup yang meningkat, rasa individualistis, dan egoisme, persaingan dalam hidup, keadaan yang tidak stabil, dan seterusnya. Kegelisahan dalam konteks budaya dapat dikatakan sebagai akibat adanya instrik manusia untuk berbudaya, yaitu sebagai upaya mencari “kesenpurnaan”. Atau dari segi batin manusia, gelisah sebagai akibat noda dosa pada hati manusia. Dan tidak jarang akibat kegelisahan seseorang sekaligus membuat orang lain menjadi korbannya.
Penyebab kegelisahan dapat pula dikatakan akibat mempunyai kemampuan untuk membaga dunia dan mengetahui misteri kehidupan. Kehidupan ini yang menyebabkan mereka menjadi gelisah. Mereka sendiri sering tidak tahu mengapa mereka gelisah, mereka hidupnya kosong dan tidak mempunyai arti. Kegelisahan yang demikian sifatnya abstrak sehingga sehingga disebut kegelisahan murni, yaitu merasa gelisah tanpa mengetahui apa kegelisahannya, seolah-olah tanpa sebab.
Ini berbeda dengan kegelisahan “terapan” yang terjadi dalam peristiwa kehidupan sehari-hari, seperti kegelisahan karena anaknya sampai malam belum pulang, orang tua yang sakit keras, melakukan perbuatan dosa yang ditentang nuraninya, dan sebagainya.
Alasan mendasar mengapa manusia gelisah ialah karena manusia memiliki hati dan perasaan. Bentuk kegelisahannya berupa keterasingan, kesepian, dan ketidakpastian. Perasaan-perasan ini silih bergantidengan kebahagiaan, kegembiraan dalam kehidupan manusia. Perasaan seseorang yang sedang gelisah adalah hatinya tidak tenteram, merasa khawatir, cemas, takut, jijik dan sebagainya.
Menurut Sigmund Freud perasaan cemas ada tiga macam, yaitu:
1. Kecemasan objektif
Kegelisahan ini mirip dengan kegelisahan terapan, seperti anaknya yang belum pulang, orang tua yang sakit keras, dan sebagainya.
2. Kecemasan neurotik (saraf)
Hal ini timbul akibat pengamatan tentang bahaya dari nurani. Contohnya dalam penyesuaian diri dengan lingkungan, rasa takut .
Menuruy S. Freud kecemasan dibagi dalam tiga macam:
a. Kecemasan yang timbul karena penyesuaian diri dengan lingkungan. Kecemasan ini timbul karena orang itu takut dengan bayangannya sendiri atau takut dengan egonya sendiri sehingga menekan dan menguasai egonya.
b. Rasa takut irasional atau fobia. Rasa takut ini mudah menular sehingga kadang-kadang tanpa alasan dan hanya karena pandangan saja, yang kemudian dilanjutkan dengan khayalan yang kuatdapat menimbulkan rasa takut.
c. Rasa takut ialah rasa gugup, gagap, dan sebagainya.
3. Kecemasan Moral
Tiap pribadi memiliki bermacam-macam emosi antara lain: iri, benci, dendam, dengki, marah, takut, gelisah, cinta, rasa kurang (inferiot).
Rasa ini biasanya dihubungkan dengan keadaan orang lain atau keadaan lainyang menjadi sebab perbandingan yang diinginkan. Iri dan sebagainya itu mungkin tidak beralasan, artinya hanya memandang dirinya sendiri tanpa memperhatikan keadaan orang lain.

Sebab-sebab orang gelisah adalah pada hakikatnya orang takut kehilangan hak-haknya. Hal itu akibat dari suatu ancaman, baik ancaman dari luar maupun dari dalam.
Contoh: apabila ada suatu tanda bahaya (banjir, gunung meletus atau perampokan), orang tentu akan gelisah. Hal ini disebabkan adanya bahaya yang akan mengancam hilangnya hak beberapa orang sekaligus, misalnya : hak hidup, hak milik, hak memperoleh perlindungan, dan mungkin hak nama baik.

II.3 CARA MENGATASI PENDERITAAN DAN KEGELISAHAN
Dalam mengatasi penderitaan dan kegelisahan, pertama-tama harus dari diri kita sendiri, yaitu bersikap tenang. Dengan sikap tenang kita dapat berpikir jernih dan segala kesulitan dapat kita atasi.dengan ketenangan ini, orang yang mengancam kita mungkin akan mengurungkan niatnya.
Contoh.
1. Bila ada orang mengancam dengan senjata tajam atau pistol sekalipun, dan kita tenang menghadapinya mungkin orang itu akan gentar dan akhirnya mengurungkan niatnya.
2. Dokter yang menghadapi anak atau istrinya yang sakit, justru tidak bisa merasa tenang, karena ada ancaman terhadap haknya. Ia tidak dapat berbuat apa-apa bila menghadapi keluarganya yang sakit, karena dia merasa khawatir. Dalam hal ini ia harus bersikap seperti menghadapi pasien yang bukan keluarganya.

Untuk mengatasi penderitaan dan kegelisahan, yang paling ampuh adalah memasrahkan diri kepada Tuhan. Kita pasrahkan nasib kita sepenuhnya kepada-Nya. Kita harus percaya bahwa Tuhanlah yang Maha kuasa, pengasih, penyayang dan Maha pengampun. Serta menambahkan iman kita dengan meningkatkan ibadah kita seperti shadaqah, agar hati kita menjadi tenang.
BAB III
PENUTUP

III.1 KESIMPULAN
1. Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sangsekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat berbentuk lahir atau batin, keduanya. Termasuk penderitaan ialah keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan, kekenyangan, kepanasan dan lain-lain.
Penderitaan seseorang menurut pandangan agama islam disebabkan oleh dua kenungan. Pertaam, karena ujian Allah, kedua, karena bala’ atau siksa Allah. Bila kita mengalami suatu penderitaan maka sikap kita yang paling jitu adalah “mawas diri”. Dengan jalan itu dapat memperoleh.

2. Kegelisahan berasal dari kata gelisah. Gelisah artinya rasa yang tidak tenteram di hati atau merasa selalu khawatir, tidak dapat tenang, cemas dan sebagainya. Kegelisahan artinya perasaan gelisah, khawatir, cemas atau takut. Manusia yang gelisah selalu dihantui rasa khawatir dan takut.
Alasan mendasar mengapa manusia gelisah ialah karena manusia memiliki hati dan perasaan. Bentuk kegelisahannya berupa keterasingan, kesepian, dan ketidakpastian. Perasaan-perasan ini silih bergantidengan kebahagiaan, kegembiraan dalam kehidupan manusia. Perasaan seseorang yang sedang gelisah adalah hatinya tidak tenteram, merasa khawatir, cemas, takut, jijik dan sebagainya.

3. Untuk mengatasi penderitaan dan kegelisahan, yang paling ampuh adalah memasrahkan diri kepada Tuhan. Kita pasrahkan nasib kita sepenuhnya kepada-Nya. Kita harus percaya bahwa Tuhanlah yang Maha kuasa, pengasih, penyayang dan Maha pengampun. Serta menambahkan iman kita dengan meningkatkan ibadah kita seperti shadaqah, agar hati kita menjadi tenang.



DAFTAR P USTAKA

Mawardi, dan Hidayati, Nur.2007. IAD-ISD-IBD Untuk UIN, STAIN, PTAIS. Bandung: Pustaka Setia.
Mustofa, Ahmad. 1999.IBD Untuk IAIN, STAIN, PTAIS, Semua Fakultas dan Jurusan Komponen MKU. Bandung: Pustaka Setia.
Rohiman, Notowidagdo.2000. IBD Berdasarkan Al-Quran dan hadist. Jakarta: Rajawali Press.
Soelaeman, Munandar.2007.Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar. Bandung: Refika Aditama.
Winarno. Herimanto.2009. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar